Karakteristik Peserta Didik (bahan bacaan)
Karakteristik peserta didik dalam proses pembelajaran
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hai semuanya, saya Dela Wulandari. Disini saya akan melaporkan dan berbagi hasil bacaan saya yaitu tentang karakteristik peserta didik, Hal ini untuk memenuhi tugas mata kuliah magang 1. Sumber dari bahan bacaan yang saya ambil yaitu dari jurnal "Memahami karakteristik peserta didik Dalam proses pembelajaran".
Sebagai seorang individu pasti memiliki sifat bawaan dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan sekitar dimana ia berada. Menurut ahli psikologi, kepribadian seseorang terbentuk oleh perpaduan faktor pembawaan dan lingkungan sekitarnya. Karakteristik peserta didik yang bersifat biologis biasanya cenderungblebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan faktor psikologis lebih mudah berubah karena dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan dia menetap. Misalnya seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu garis keluarga ayah dan garis keluarga ibu. Sejak terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru itu secara berkesinambungan, dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor lingkungan yang merasangsang pertumbuhan dan perkembangannya. Masing-masing perangsang tersebut, baik secara terpisah atau terpadu dengan rangsangan yang lain, semuanya membantu perkembangan potensi-potensi biologis demi terbentuknya tingkah laku manusia yang dibawa sejak lahir. Hal itu akhirnya membentuk suatu pola karakteristik tingkah laku yang dapat mewujudkan seseorang sebagai individu yang berkarakteristik yang berbeda dengan individu-individu lain ( karena faktor lingkungan dan rangsangan ).
Adapun karakter-karakter peserta didik seperti Anak didik adalah subjek, maksudnya yaitu pribadi yang memiliki kedirisendirian, dan kebebasan dalam mewujudkan dirinya sendiri untuk mencapai kedewasaannya. Jadi, tidak dibenarkan jika anak didik sebagai“objek”, maksudnya sebagai sasaran yang dapat diperlakukan dan dibentuk dengan semena-mena oleh pendidiknya. Anak didik sedang berkembang, Setiap anak didik memiliki perkembangan, dalam setiap proses perkembangan tersebut terdapat tahapan-tahapannya. Oleh karena itu setiap anak didik yang berada dalam tahap perkembangan tertentu menurut perlakuan tertentu pula dari orang dewasa terhadapnya. Anak didik hidup dalam dunia tertentu, setiap anak didik hidup dalam dunia nya sesuai tahapan kembangannya, jenis kelaminnya, dan lain-lain. Anak didik harus diperlakukan sesuai dengan keanakannya atau sesuai dengan fungsinya. Sebagai contoh adalah kehidupan anak SD berbeda dengananak, SMP atau SMA. Oleh karena itu perlakuan pendidik terhadapanak SD, SMP dan SMA berbeda, sesuai dengan kebutuhan danmasanya. Anak didik hidup dalam lingkungan tertentu, Anak didik adalah subjek yang berasal dari keluarga dengan latar belakang lingkungan alam dan sosial budaya tertentu. Oleh karena itu, anak didik akan memiliki karakteristik tertentu yang berbeda-beda sebagai akibat pengaruh lingkungan dimana ia dibesarkan atau dididik. Dalam praktek pendidikan, pendidik perlu memeperhatikandan memperlakukan anak didik dalam konteks lingkungan dan sosial budayanya. Anak didik memiliki ketergantungan kepada orang dewasa, Setiap anak memiliki kekurangan dan kelebihan tertentu. Dalam perjalanan hidupnya, anak masih memerlukan perlindungan, anak masih perlu belajar berbagai pengetahuan, perlu latihan dan keterampilan, anak belum tahu mana yang benar dan salah, yang baik dan tidak baik, serta bagaimana mengantisipasi kebutuhan dimasadepannya. Dibalik kebebasannya untuk mewujudkan dirinya sendiri dalam rangka mencapai kedewasaan, anak masih memerlukan bantuan orang dewasa. Anak didik memiliki potensi dan dinamika bantuan orang dewasa berupa pendidikan agar anak didik menjadi dewasa akan mungkin dicapai oleh anak didik. Hal ini disebabkan anak didik memiliki potensi untuk menjadi manusia dewasa dan memiliki dinamika, yaitu aktif sedang berkembang dan mengembangkan diri, serta aktif dalam menghadapi lingkungannya dalam upaya mencapai kedewasaan.
Faktor penentu karakter seorang peserta didik dapatdibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor intern yaitu faktor dari dalam diri dan faktor extern artinya faktor dari luar dirinya. Dalam dunia psikologi, karakter peserta didik terdiri dari faktor faktor keturunan (pembawaan) dan faktor lingkungan (pengalaman). Serta ada tiga aliran yang mendefinisikan beberapa faktor penentu karakter peserta didik, yaitu aliran Nativisme menyatakan perkembangan pribadi telah ditentukan sejak lahir, sedangkan aliran Empirisme menyatakan perkembangan pribadi dibentuk oleh lingkungan hidupnya. Aliran yang menyatakan bahwa kedua faktor itu secara terpadu memberikan pengaruh tarhadap karakter seseorang adalah aliran Konvergensi.
Setiap peserta didik yang belajar suatu, pasti memiliki karakteristik yang berbeda-beda, adapun aspek-aspek perbedaan jenis karakter peserta didik adalah Aspek emosional/ kemauan yaitu Aspek tentang emosi peserta didik, Semisal biasanya anak tersebut mudah marah karena lingkungan keluarganya yang keluarga preman. Aspek sosial psikologis yaitu aspek tentang psikologis peserta didik, Semisal biasanya anak tersebut nilainya bagus saat sekolah, lama kelamaan nilainya menurun diakibatkan perpecahan orang tua dirumahnya. Aspek sosial budaya yaitu Aspek tentang hubungan peserta didik dengan lingkungan sekitar, Semisal saat ia setingkat SLTA biasanya anak tersebut setelah pulang langsung bermain hingga sore bersama teman-temannya, namun setelah lulus SLTA ia sudah tidak pernah lagi untuk komunikasi dengan temannya karena kesibukannya bekerja pada suatu perusahaan. Kemampuan intelektual terpadu secara integratif terhadap faktor lingkungan yaitu Aspek tentang kecerdasan peserta didik yang dapat diperoleh mudah dilingkungannya, Semisal awalnya anak didik tersebut tinggal didesa dan tidak mengerti istilah-istilah pembelajaran dikota Kemudian ia pindah sekolah dikota dan sekarang sudah mengerti istilah pembelajaran dikota.
Tenaga pendidik (guru) memegang peran penting dalam proses pembelajaran di kelas dan bahkan dalam meningkatkan kualitas Pendidikan di sebuah sekolah, daerah, dan nasional. Guru sebagai komponen kunci dalam proses pendidik dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran yang mendidik. Peran besar inilah yang dituntut dari guru, khususnya dalam pembentukan karakter anak maupun karakter bangsa. Karakter yang diharapkan bukan hanya memiliki kecerdasan dan keterampilan, tetapi karakter akhlak mulia dan spritualitas-keagamaan. Dalam menggapai tujuan itu, implikasi proses belajar diarahkan pada proses pembelajara yang berorientasi pada anak didik. Menurut Dimyati & Mudjiono (2006), belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, belajar hanya dialami oleh anak sendiri. Proses belajar terjadi karena anak memperoleh pengalaman yang ada dilingkungan sekitarnya. Atau dalam istilah Davies, tujuan akhir dari pengajaran (pembelajaran) adalah perubahan dan perubahan itu sendiri oleh interaksi anak dengan lingkungannya (Davies. 1986). Untuk itu, dalam memahami karakteristik peserta didik, seorang tenaga pendidik membutuhkan disiplin ilmu seperti Psikologi Belajar, Psikologi Perkembangan, Psikologi Kepribadian, dan bahkan dimungkin ilmu-ilmu yang berkaitan dengan disiplin ilmu komunikasi.
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami karakteristik anak didik, yaitu:
Membangun komunikasi verbal, Komunikasi verbal perlu dilakukan pada setiap kesempatan dalam proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Komunikasi verbal diakukan dengan melibatkan peserta didik secara langsung. Pelibatan peserta didik dilakuka dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan interaktif yang beragam, namun pertanyaan-pertanyaan tersebut masih dalam lingkup partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Sebagai catatan penting, komunikasi verbal dapat efektif apabila peserta didik dipandang sebagai subyek, bukan obyek pembelajaran. Secara fungsional, komunikasi verbal dapat mengkonstruksi elemen hubungan psikologis, di samping mengembangkan harmonisasi batin anatara pendidik dengan peserta didik. Hubungan psikologis dan harmonisasi batin pendidik dengan anak didik tidak akan mungkin diperoleh pada komunikasi nonverbal. Atas dasar hubungan tersebut, komunikasi verbal juga dapat dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam proses pembelajaran, khususnya ketika pendidik berhadapan dengan peserta didik yang termasuk dalam kategori “agak nakal” Faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab anak didik menjadi “agak nakal” seperti mental anak belum stabil, dominasi faktor lingkungan, keadaan lingkungan keluarga tidak kondusif, pengaruh teman sebaya dan faktor bawaan.
Menjadi figur yang baik akan menjadi teladan bagi peserta didik. Ia memiliki beberapa kriteria seperti rasa optimis, komunikatif, memiliki kharisma, dan perduli dengan lingkungan sekitar, termasuk dunia anak-anak. Beberapa kriteria tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam memahami karakter peserta didik. Keteladanan dala bersikap, berkata, dan berkomunikasi yang baik dapat dilakukan dengan menjadi pendengar yang setia atau siap mendengar keluh kesah anak didik. Seorang figure yang baik umumnya memahami karakteristik peserta didik dengan beberapa cara. Di samping itu guru perlu mengedepan Teknik mengajar seperti formal tetapi tidak kaku, bercanda tapi tidak berlebihan, belajar di luar kelas (outdoor), makan minum dibolehkan tetapi harus tertib dan proporsional dalam tanya jawab. Bila teknik-teknik ini dilakukan dengan serius, maka guru dapat memotivasi dan sekaligus meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar, dan bahkan rasa betah (tidak mudah bosan) dalam proses pembelajaran akan semakin timbul.
Berhati-hati dalam menyimpulkan karakter peserta didik, Pendidik perlu bersikap hati-hati dalam mengambilkan sebuah kesimpulan, apalagi kesimpulan tersebut mengarah pada upaya memahami karakter peserta didik. Tenaga pendidik menghadirkan semua potensi dan memberikan respon secara bijak untuk mengoptimalisasi pemahaman terhadap karakter secara komprehensif.
Mengenal tanda-tanda keanehan peserta didik, Tanda-tandan yang dimaksud disini adalah tanda fisik maupun non fisik. Pada dasarnya tidak ada sesuatu yang dianggap aneh, tapi yang ada adalah keunikan karakteristik. Fenomena sikap peserta didik perlu disikapi dengan memperhatkan karakter personal dan kelompok anak dalam proses pembelajaran.
Bersifat terbuka Bersikap terbuka menjadi sikap penting dimiliki oleh pendidik. Bersikap terbuka pada peserta didik berarti memberikan peluang secara luas untuk memahami karakter anak. Dengan sikap terbuka, pada umumnya anak didik akan bersikap terbuka pada pendidik. Anak didik memerlukan perhatian dari pendidik baik dalam kelas maupun di luar kelas. Karakter yang dimiliki anak beragam. Keragaman itu tentu menentukan cara, dan pendekatan tenaga pendidik dalam proses memahami sifat dan karakter anak. Menurut Janawi, yang terpenting dipahami guru sebenarnya adalah bagaimana memahami dunia anak, karakteristik anak, dan proses pendidikan anak. Setiap anak memiliki persaman dan perbedaan. Periodesasi pertumbuhan dan perkembangan anak perlu dipahami guru secara totalitas (Janawi, 2009). Yang terpenting adalah anak menjadi pusat perhatian.
Proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik apabila guru mampu memahami karakter anak dengan dengan baik. Karakter penting yang perlu dipahami dalam proses pembelajaran diantaranya adalah, Mengidentifikasi karakter fisik dan non fisik anak didik di kelas. Anak merupakan individu yang masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan mengarah pada fisik, sedangkan perkembangan mengacu pada fungsi-fungsi organ dan non fisik. Karakter fisik merupakan sesuatu ciri yang mudah diamati, seperti ciri-ciri fisik (keadaan kaki, mata, tangan, berkemampuan khusus, dan lainnya). Dalam proses pembelajaran, tenaga pendidik tidak boleh melalaikan unsur tersebut. Karena unsur itu akan berimplikasi pada pengelolaan kelas yang pada akhirnya berdampak pada pencapaian tujuan belajar. Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak selalu linear. Pada beberapa kasus, pertumbuhan dan perkembangan mengalami keterlambatan atau ketidakseimbangan, seperti sosio emosional anak. Mengidentifikasi karakteristik belajar setiap peserta didik di kelasnya. Anak memiliki karakteristik tersendiri dalam belajar. Karakteristik ini tidak lepas dari beberapa hal seperti bakat, minat, lingkungan anak, gaya belajar, intlegensia anak, dan lainnya. Memastikan semua peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dalam paradigma Pendidikan modern, guru bukan lah “pengajar”, tetapi guru adalah fasilitator dan motivator. Pendidik profesional harus mampu memberi peran besar sebagai fasilitator. Tenaga pendidik memberikan kesempatan yang sama kepada anak didik, agar anak didik dapat berpartisipasi secara maksimal dalam proses pembelajaran. Mengatur kelas untuk memberikan kesempatan belajar yang sama pada semua peserta didik dengan kelainan fisik dan kemampuan belajar yang berbeda. Mengatur kelas berkaitan dengan pengelolaan kelas. Beberapa hal yang penting diatur seperti : Tempat/posisi duduk anak. Tempat duduk perlu disesuaikan dengan keadaan fisik maupun nonfisik anak. Contoh, ukuran tinggi badan anak bila kelas menggunakan sistem deret, penglihatan anak, pendengaran anak dan lainnya, Penerangan kelas, Mobilitas pendidik dan Posisi media pembelajaran. Mencoba mengetahui penyebab penyimpangan perilaku peserta didik untuk mencegah agar perilaku tersebut tidak merugikan peserta didik lainnya. Anak memiliki karakter perilaku yang berbeda. Penyimpangan perilaku tidak dianggap sesuatu yang aib. Bila ada tanda-tanda penyimpangan perilaku, maka pendidik mengupayakan melakukan konseling terhadap anak. Bahkan pendidik dan pihak sekolah haus mengupayakan melakukan upaya-upaya dan pendekatan psikologis. Pemantauan dan kontrol dilakukan secara terus menerus. Membantu mengembangkan potensi dan mengatasi kekurangan dan keterlambatan pemahaman peserta didik. Anak memiliki perbedaan potensi. Potensi yang dimaksudkan disini dapat berupa kecenderungan minat, bakat, dan keterlambatan dalam merespon pembelajaran. Kelemahan pembelajaran sistem klasikal adalah agak lamban merespon perbedaan-perbedan individual. Untuk mengetahui anak lebih awal perkembangan anak, pendidik dan pihak sekolah dianjurkan bekerjasama dengan pihak-pihak tertentu untuk mengetahui sedini mungkin potensi-potensi yang dimiliki anak. Pihak-pihak tersebut diantaranya adalah psikolog. Test-test psikologis dianggap penting untuk mengetahui keadaan anak sehingga pendidik dan sekolah dapat memberikan pendekatan yang mampu memaksimalkan proses pembelajaran. Memperhatikan peserta didik dengan kelemahan fisik tertentu agar dapat mengikuti aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik tersebut tidak termarginalkan (tersisihkan, diolok‐olok, minder, dsb). Anak memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan karakteristik membutuhkan perhatian dan pendekatan yang berbeda. Walaupun sistem pendidikan masih menerapkan sistem klasikal, namun guru dituntut untuk memberikan perhatian tertentu pada anak didiknya dalam proses pembelajaran. Di satu sisi guru memberikan perhatian kepada seluruh anak yang ada dalam proses pembelajaran di kelas, di sisi lain guru harus memberikan perhatian khusus pada anak-anak tertentu. Oleh karena itu, guru harus menguasai teori dan prinsip-prinsip pembelajaran.
Jadi, Penting dalam mengembangkan karakteristik anak didik. Peran guru dalam memahami karakteristik anak didik dapat dioptimalkan dalam proses pembelajaran normal atau pembelajaran di kelas atau dalam dunia persekolahan formal. Peran ini akan semakin menghilang apabila guru tidak berinteraksi intens dengan anak. Semakin baik guru memahami karakteristik anak, maka proses tersebut dapat berdampak pada optimalisasi pencapaian tujuan pembelajaran, membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Mempermudah anak untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya, mempermudah guru dan orang tua atau pihak yang berkepentingan untuk mendiagnostik anak, apabila anak memiliki masalah-masalah tertentu dan mempermudah anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Hanya itu yang dapat dipaparkan, jika ada kesalahan kata mohon dimaafkan dan masukannya. Terimakasih...........
Sumber:
Janawi. 2019. Memahami karakteristik peserta didik dalam proses pembelajaran. IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Vol. 6, No. 2, 2019, Hal. 68 - 79
Hani Hanifah, dkk. 2020. PERILAKU DAN KARATERISTIK PESERTA DIDIK BERDASARKAN TUJUAN PEMBELAJARAN. Universitas muhammadiyah tangerang. Volume 2, Nomor 1, Februari 2020; 105-117
Komentar
Posting Komentar